Long-Life Learner | Engineering and Management Enthusiast

Artikel, Islamic Article

Bersandiwara di Bulan Ramadhan?

“Jangan jadikan Ramadhan sebagai bulan sandiwara”, itulah quote yang muncul dari adikku saat kami bercakap-cakap mengenai kekonsistenan amalan. Perkataan itu memicuku untuk menulis artikel ini. Di samping untuk memberikan inspirasi kepada pembaca, sebenarnya tujuan yang paling utama adalah menasihati diri sendiri agar care dengan bulan-bulan setelah Ramadhan. Let get started.

Ramadhan adalah bulan yang memiliki keistimewaan tersendiri. Pada bulan inilah umat Islam secara umum lebih mendedikasikan waktunya untuk beribadah di banding bulan-bulan lainnya. Namun, ada realitas yang tidak tepat dan terjadi pada kita umat muslim, tak terkecuali diri ini, yaitu penurunan kualitas ibadah pada bulan-bulan selanjutnya, bahkan mungkin signifikan. Di Indonesia sendiri, pada bulan Syawal, memang ada aktivitas positif yang jadi meningkat, yaitu silaturahmi. Namun, bagaimana dengan yang lainnya?. Jangan sampai produktivitas kita malah menurun setelah bulan Ramadhan.

Jika kita pada bulan Ramadhan membuat target-target, bahkan kita tahu templates atau format pdf mengenai perencanaan amalan di bulan Ramadhan banyak tersebar, mengapa tidak kita terapkan juga pada bulan lainnya. Padahal berdasarkan QS. Al-Hasyr [59] ayat 18, orang yang beriman hendaklah bertaqwa dan memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esoknya, artinya kita memang harus memiliki stok rencana-rencana kebaikan, bukannya di bulan Ramadhan, tapi juga di bulan lainnya.

|  Contoh template amalan yaumi

Imam Ahmad mengatakan, “Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang hanya mengenal Allah di bulan Ramadhan saja” (muslim.or.id). Tentu kita mengapresiasi segala bentuk perubahan ke arah positif yang terjadi di Bulan Ramadhan. Dari yang tak pernah shalat kemudian rajin atau agak rajin shalat, dari jarang ke Masjid jadi lebih sering ke Masjid, dari tak pernah berjilbab jadi berjilbab, dsb. Maka melalui tulisan ini, aku mengajak, mari kita pertahankan dan tingkatkan positive routines yang sudah kita bangun di bulan Ramadhan kemarin.

Kita sudah terlatih shaum selama satu bulan penuh, mari kita lanjutkan dengan shaum 6 hari di bulan syawal dan memulai rutinitas shaum sunah seperti shaum senin kamis dan ayyamul bidh (tengah bulan hijriah). Kita berhasil menegakkan shalat malam (tarawih) dan bangun sebelum shubuh untuk sahur, maka kita seharusnya bisa berhasil juga membiasakan Shalat malam. Jika kita telah mampu membaca al-Quran secara rutin bahkan khatam di bulan Ramadhan, maka bagaimana di bulan lainnya?. Mari kita lanjutkan, meskipun mungkin kuantitasnya tidak sebaik di bulan Ramadhan. Mumpung masih hangat, mumpung masih terlatih, sebelum semuanya tidak biasa lagi.

Sebagai penutup, ’Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (HR. Muslim no. 783, melalui rumaysho)

Leave a Reply